Belajar bisa saja lewat gelombang elektromagnetik. Dari siaran radio, pengetahuan-pengetahuan praktispun mengalir. Mulai dari cara bertani salak pondoh, meracik jamu, sampai problematika kesehatan reproduksi untuk remaja.
Radio merk Philips tahun 70an itu selalu ada di samping tempat tidur Panud (50 th). Pada waktu-waktu tertentu, suaranya menggema nyaring ke seluruh sudut kamar, sampai keluar ruang tamu. Pada pukul 19.30-20.00 misalnya, setiap hari, dari kamar seluas 3
4 meter itu terdengar siaran mengenai pertanian. Malam itu, 21 Januari 2008, yang terdengar siaran cara beternak sapi yang menguntungkan.
Panud Raharjo, warga RT 07 Padukuhan 9 Sonopakis Lor, Kasihan, Bantul, sangat menggemari radio. Terutama siaran mengenai pertanian. Apalagi profesinya sebagai ketua Kelompok Tani Mudimulyo, membuatnya semakin rajin mendengarkan radio. “Saya harus banyak menimba ilmu pertanian. Sehingga kalau ada yang bertanya bisa menjawab.” ujarnya. Oleh karena itu, acara Siaran Pedesaan dan Wedhangan sangat disukai bapak beranak empat ini.
Tak banyak stasiun radio di Yogyakarta yang menyelenggarakan siaran pendidikan praktis. Berikut diantaranya yang berhasil EKSPRESI bidik adalah Siaran Pedesaan, Bothekan, dan Pro Remaja.
Dari Pro 1 Untuk Pedesaan
Setiap hari, pada pukul 05.30-06.00 dan 19.30-20.00 dari Programa 1 RRI Yogyakarta (Pro 1) mengudara Siaran Pedesaan. Acara ini membahas masalah pertanian. Tema-tema seputar pertanian, perkebunan dan peternakan disiarkan di frekuensi 91.1 FM. Semisal cara berternak kerbau, bertani salak pondoh, atau cara menangani hama tanaman. “Tema-tema untuk membangun masyarakat pedesaan.” Ujar Ir. Sulistyanto Istikamah, Kepala Seksi Pro 1.
Sebelum RRI pusat mengonsep Siaran Pedesaan pada September 1969, RRI Yogyakarta telah mencanangkannya pada September 1968. Kala itu RRI Yogyakarta masih bernama RRI Nusantara II Yogyakarta. Kemudian melalui Seminar Nasional Komunikasi Pedesaan dan Siaran Pertanian (Rural Comunication and Farm Broadcasting) di Jakarta tahun 1969, dihasilkanlah rekomendasi untuk menyiarkan Siaran Pedesaan secara nasional.
Seiring berjalannya waktu, Siaran Pedesaan semakin berkembang. Dialog interaktif mulai diadakan tahun 2002. “Untuk tahu feed back dari pendengar,” tutur Sulistyanto. Tema yang diusung waktu itu mengenai cara bertani salak pondoh dengan Prof. Suprapto dari UGM.
Siaran Pedesaan banyak digemari pendengar. Panud salah satunya. “Karena biasanya ilmu dan praktek tidak sama. Siaran Pedesaan lebih mengarah ke prakteknya.” Ujar lulusan penyuluhan pertanian IPB ini. Senada dengan Panud, Supardi, penggemar asal Berbah, Sleman menambahkan “Kalau sudah bisa praktek kan bisa nambah penghasilan.”
Selain Siaran Pedesaan, acara yang mengusung masalah pertanian adalah Wedhangan. Sesuai namanya, Wedhangan disampaikan dalam bahasa jawa. Layaknya di tempat penjual wedang, Wedangan dikemas secara santai dalam bentuk feature dan diskusi. Wedhangan disiarkan selama 30 menit dua kali seminggu oleh Pro 4 pada frekuensi AM 1107 KHz. Setiap Senin dan Kamis pukul 19.30-20.00 dan siaran ulangnya setiap selasa dan jumat pukul 05.30-06.00.
Meracik jamu di Bothekan
Mau belajar racik-meracik jamu, ada di Bothekan. Bothekan dalam bahasa jawa berarti empon-empon atau rempah-rempah untuk kesehatan. Segala hal tentang obat-obatan tradisional dikupas habis di sini. “Untuk mengantisipasi mahalnya harga obat.” ujar Slamet HS, Kepala Seksi Pro 4. Apalagi melihat kondisi ekonomi masyarakat akibat pengaruh krisis moneter, mahalnya harga obat membuat masyarakat mencari alternatif pengobatan.
Mulanya Bothekan disiarkan Pro I dengan nama obat-obatan Tradisional. Setelah lahir Pro 4 yang berkutat di bidang pendidikan dan budaya, Obat-obatan Tradisional pindah ke Pro 4 dan berganti nama menjadi Bothekan. Bothekan diusung untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap obat tradisional yang berasal dari rempah-rempah khas nusantara, “Untuk membantu sosialisasi rempah-rempah khas nusantara,” Slamet menegaskan.
Tema-tema seputar racik-meracik jamu dan rempah-rempah nusantara semisal manfaat daun sirih, penyembuhan melalui herbal dengan fisioterapi, pemijatan atau manfaat daun salam disajikan dalam bahasa jawa bersama penyiar Suparlan setiap Senin pukul 16.00-16.50 WIB.
Pro Remaja Untuk Remaja
Permasalahan seputar kehidupan remaja ada di Pro Remaja. Bermula dari keinginan memberikan tambahan pengetahuan dan pembelajaran mengenai seluk beluk dunia kaum remaja, Pro Remaja mulai mengudara tahun 2002. Acara ini hasil kerjasama Pro 2 dengan PKBI-Lentera Sahaja. Bentuk acara yang live-interaktif, memudahkan pendengar untuk berkonsultasi.
Setiap Sabtu pukul 16.00-17.00 selama 60 menit, para remaja ditemani dengan tema-tema seputar permasalahan remaja, mulai dari bagaimana berpacaran yang sehat, cara beradaptasi di sekolah, sampai masalah kesehatan reproduksi.
Di tengah maraknya media komunikasi, pendidikan praktis di radio tetap menjadi pilihan. “Praktek tanpa teori kurang sempurna, teori tanpa praktek tak ada gunanya,” ujar Suparlan, Penyiar Bothekan. Kelebihan radio yang praktis dan fleksibel menjadi daya tarik tersendiri, “Tidak seperti TV yang harus ditonton. Radio praktis, bisa sambil nyambi,” tambah Suparlan. Sepakat dengan Suparlan, Panud menambahkan ”TV hanya menampilkan sinetron yang mudah ditebak klimaksnya.”